Tampilkan postingan dengan label Ranying Hatalla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ranying Hatalla. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

Pandangan Hindu Kaharingan Tentang Perkawinan dan Keturunan Serupa Ranying Hatalla (Kitab Suci Panaturan Pasal 19)

Manusia adalah mahluk yang memiliki keistimewaan tersendiri. Kemampuannya untuk berpikir, menggunakan indria dan semua daya nya bahkan untuk merubah dunia sesuai apa yang ia kehendaki. Demikianlah keistimewaannya yang dapat menjadi terang dunia atau bahkan sebaliknya.
Seperti yang kita ketahui, dalam ajaran Hindu terdapat 4 (empat) tahapan kehidupan manusia, yang disebut catur asrama. Dalam catur asrama diberikan penjelasan tentang beberapa fase kehidupan manusia.
Fase tersebut adalah fase brahmacari (menuntut ilmu), fase grhasta (berumah tangga), fase wanaprastha (melepas keduniawian), dan yang terakhir fase bhiksuka (melepas keduniawian total/tidak menikah). Dalam catur asrama manusia diberi pandangan tentang bagaimana ia seharusnya menjalankan kehidupannya. Dari masa kanak-kanak hingga ia beranjak dewasa dan menjadi manusia yang bijak. Di masa kanak-kanak dijelaskan bagaimana seharusnya ia berperilaku dan apa yang menjadi swadharmanya. Seorang anak seharusnya memanfaatkan waktunya untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai keterampilan sampai ia siap menuju ke jenjang pernikahan saat ia telah cukup dewasa dan layak untuk itu.
Manusia ataupun seorang anak dilahirkan dari bersatunya seorang laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan. Hal tersebutlah yang lazim kita ketahui dalam keseharian kita. Namun, realita yang terjadi di masyarakat saat ini tidaklah seperti yang kita yakini. Banyak terjadi perbuatan amoral yang menyebabkan kelahiran seorang anak manusia di luar pernikahan. Bahkan hal tersebut sudah seperti hal yang biasa terjadi dalam dunia modern ini.

Lalu apa menurut Panaturan?

Panaturan Pasal 19 menyampaikan bahwa:
Kilen kea amun jadi kinjap tutu panjanjuri dahan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan, Limut Batu kamasan Tambun palus hindai atun mandinun garing tarantange, sihung lalundung.
Artinya :
Melihat beberapa kejadian yang telah berlalu, sering Kameluh Putak Bulau Janjulan Karangan, Limut Batu Kamasan Tambun keguguran (panjanjuri darahnya), namun masih belum juga mendapat anak keturunannya.

Dalam kitab suci Panaturan diceritakan bahwa Kameluh Putak Bulau dan Manyamei Tunggul Garing telah tinggal bersama namun dari hubungannya tersebut belum juga dikaruniai keturunan. Beberapa kali ia mengandung namun selalu saja mengalami keguguran.
Hingga Ranying Hatalla Langit pun menghendaki agar mereka berdua melaksanakan pernikahan agar mendapatkan keturunan.

Ewen ndue tuh puna ilalus gawin lunuk hakaja pating, barigen hatamue bumbung, awi ewen sintung ndue dapit jeha ije manak manarantang hatamunan AKU huang pambelum Pantai Danum Kalunen ije puna ingahandak awi-KU tuntang talatah panggawie, manjadi suntu akan pambelum Pantai Danum Kalunen.
(Panaturan, Pasal 19 ayat 3)

Artinya:
Sesungguhnya mereka berdua ini adalah wujud-KU sendiri, AKU akan melaksanakan Upacara Perkawinannya agar mereka dapat memberikan keturunan serupa AKU, bagi kehidupan dunia yang AKU kehendaki, dan ini pula yang akan mereka lakukan pada kehidupan dunia nantinya.

Apa yang dimaksud keturunan serupa IA?

Tuhan YME atau Ranying Hatalla Langit merupakan IA yang Maha Segalanya. memiliki semua sifat sifat luhur atau dikenal dengan sifat kedewataan. Tidak dikuasai oleh hal-hal negatif dan tentunya selalu dalam dharma.
Maka demikianlah seharusnya manusia yang sejati, memiliki kesadaran serupa IA yang ada di dalam semua mahluk dan menyadari keutamaannya sebagai seorang manusia.

Mengapa harus melalui perkawinan baru didapat keturunan serupa IA?

Perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan suci yang dilalui manusia. Dari sebuah perkawinan tentu diharapkan keturunan yang mulia dan juga dapat meneruskan kelangsungan hidup manusia. Sesungguhnya pernyataan dalam kitab suci Panaturan tersebut dapat kita pahami dan temui dalam kehidupan kita saat ini.
Tentu sudah tidak jarang didapati pasangan kumpul kebo yang telah tinggal bersama layaknya suami istri. Bahkan tidak jarang dari hubungan tersebut lahir anak-anak diluar pernikahan. Dari hal tersebut sudah tentu sangatlah sulit mendapatkan keturunan serupa Ranying Hatalla Langit.
mengapa?
Karena anak tersebut tumbuh dengan tidak layak. Dimaksud tidak layak karena ia tidak mendapatkan hak-haknya, baik perlindungannya secara hukum, bahkan terkadang haknya untuk berkehidupan layak dan kehidupan sosial yang sehat. Dengan status anak di luar pernikahan tentu ia tidak dapat berinteraksi dengan baik selayaknya anak pada umumnya. Bahkan juga tidak mampu mengenyam pendidikan dikarenakan ketidaksiapan finansial dari kedua orang tuanya.
Sehingga sudah tentu akan sangat sulit membentuk karakter dan keseimbangan baik secara mental maupun fisikis sang anak.

Hal tersebutlah yang sesungguhnya dianggap sebagai keturunan serupa AKU oleh Ranying Hatalla Langit. Kematangan dan kedewasaan kedua manusia untuk menuju jenjang pernikahan bukan sesuatu yang main-main karena dari sanalah wujud tanggungjawab terbesarnya bagi dunia dan Tuhan YME. Disanalah ia memulai misi besarnya dalam kehidupan. Mempersiapkan dengan matang masa depan dan kehidupan keluarganya.

"Maka dengan itu Ranying Hatalla Langit telah bersabda dalam Panaturan, bahwa sesungguhnya manusia adalah serupa IA. Memiliki kekuasaan dalam kedua tangannya serupa NYA. Manusia dapat memilih untuk memelihara atau menghancurkan"

Sumber: Panaturan, MBA-HK 2003

Minggu, 27 November 2011

Bulu Burung Tingang (Tingang Rangga Bapantung Nyahu), Tiga Warna Filosofi Kehidupan Hindu Kaharingan


Dalam Teologi Agama Hindu, manusia dikatakan  adalah miniatur alam semesta dengan unsur alam yang ada di dalamnya seperti air, tanah, udara, api, dan ether. Sehingga, manusia dan alam semesta adalah satu kesatuan yang saling ketergantungan satu sama lain.

Agama Hindu Kaharingan yakin bahwa ada dua ruang lingkup alam kehidupan, yaitu kehidupan alam  nyata dan kehidupan alam  maya. Menurut Hindu Kaharingan, yang berada di alam kehidupan nyata ialah  makhluk tak hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan yang berada di alam kehidupan maya adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan sudah masuk  ke ranah  metafisika yang tidak dapat dijangkau oleh indria dan tidak dapat diterima secara logika (akal sehat).

Kedua alam  kehidupan ini dapat  saling  mempengaruhi satu dengan  yang  lainnya. Sehingga, hal tersebut menjadi latar belakang utama keyakinan umat Hindu Kaharingan terhadap adanya kehidupan dan kekuatan supranatural yang sangat dekat dengan kehidupannya. Keyakinan tersebut juga menjadi alasan utama munculnya tiga kerangka dalam setiap kehidupan religiusnya, yaitu upacara (acara keagamaan/ritual keagamaan), upakara (sarana dan prasarana dalam sebuah ritual keagamaan), dan tattwa/filsafat (makna dari simbol-simbol dan setiap ritual keagamaan) yang menjadi benang merah utama Hindu dan kaharingan.

Salah satunya, upakara dalam persembahyangan umat Hindu Kaharingan  yaitu “Bulu Burung Tingang” yang biasanya digunakan sebagai sarana utama yang ada di Sangku Tambak Raja. Bulu indah dengan tiga warna yang selalu teratur, yaitu; putih, hitam, dan putih. Bukan tanpa alasan leluhur suku Dayak menggunakan bulu burung Tingang sebagai sarana utama persembahyangan (Basarah). Selain aspek religi dan magis yang terdapat dalam setiap upakara umat Hindu  Kaharingan, daya intelektual mereka yang tinggi telah mampu memberikan petuah yang sangat berharga di dalam sebuah bulu burung Tingang.

Dalam bahasa Sangiang, bulu burung Tingang disebut Dandang Tingang, yang merupakan percikan dari Danum Nyalung Kaharingan Belum (Air Suci Kehidupan) yang diberikan Ranying Hatalla kepada Raja Bunu untuk memberikan kehidupan kepada calon istrinya Kameluh Tanteluh Petak. Air Suci Kehidupan itu ditempatkan di Luhing Patung Tingang (destar/ikat kepala) milik Raja Bunu yang terlempar ke atas. Seperti tertulis dalam Panaturan:


“Ie Raja Bunu palus malusut Luhing Patung Tingange, hapa nantalai Nyalung Kaharingan Belum, Guhung Panaling Aseng bara Ranying Hatalla”

(Panaturan, Pasal 27: Ayat 19)

Artinya:
Saat itu juga Raja Bunu langsung melepaskan Luhing Patung Tingang-nya (destar/ikat kepala) untuk tempatnya menerima atau menyimpan Air Suci Kehidupan dari Ranying Hatalla.

Setelah itu destar tersebut berubah menjadi burung Tingang atau dalam bahasa Sangiang disebut Tingang Rangga Bapantung Nyahu. Kemudian Ranying Hatalla menganugrahi burung Tingang sehingga dapat dijadikan perantara permohonan dan ucapan syukur kepada Ranying Hatalla. Makna filosofis dari tiga warna dalam bulu burung Tingang adalah:
1)                  Warna putih bagian atas, berarti alam kekuasaan Ranying Hatalla Langit ( Tuhan Yang Maha Esa) Ia  yang Maha Suci atau dalam keyakinan Hindu Kaharingan  disebut Lewu Tatau.
2)                  Warna hitam ditengah, berarti alam kehidupan manusia didunia ini yang penuh dengan pertentangan, perselisihan, baik antara kebenaran dengan ketidakbenaran.
3)                  Warna putih dibagian bawah berarti kesucian yang dapat dicapai melalui usaha individu melawan ketidakbenaran (adharma) yang pada saatnya, bila dihubungkan dengan upacara keagamaan Hindu Kaharingan yaitu sampai pada upacara Tiwah/Wara.
Sehingga, suku Dayak Hindu Kaharingan memahami bahwa manusia berasal dari Ranying Hatalla yang kemudian turun ke dunia untuk belajar tentang banyak hal yang tidak jarang dapat membuatnya terjerumus dalam dosa dan kesalahan. Namun, tidak ada kesempurnaan dalam kehidupan di dunia ini, karena dunia adalah lautan penderitaan (samsara) atau Lewu Injam Tingang, kehidupan sementara yang terus bergulir. Sehingga, dosa dan kebaikan adalah Rwa Bhineda, hitam putih kehidupan yang selalu ada.

Manusialah yang kemudian dapat mengembalikan kesucian dan kemurniannya, kembali ke hakikatnya sebagai percikan Ranying Hatalla, yang mengalir di dalamnya Danum Nyalung Kaharingan Belum (Air Suci Kehidupan) dan Hintan Kaharingan (Cahaya Suci-NYA) untuk kembali menyatu dengan Ranying Hatalla Langit Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau, Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan di Lewu Tatau yang kekal abadi.