Tampilkan postingan dengan label Hintan Kaharingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hintan Kaharingan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

Nyangiang (Badewa) dalam Hindu Kaharingan

" Sangiang adalah zat suci Ranying Hatalla Langit, Dewa atau malaikat Tuhan yang bertugas membimbing manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan duniawi yang tidak kekal ini (Tim Penyusun, 2005:4)"

Demikian juga pelaksanaan Nyangiang dalam buku Maneser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur karya Nila Riwut, dikatakan bahwa:

"Sangiang dalam kepercayaan Hindu Kaharingan suku Dayak Ngaju daerah Katingan dikenal sebagai salah satu saudara Raja Bunu (manusia pertama) yang mendiami Pantai Sangiang yang menjadi perantara komunikasi manusia dengan Ranying Hatalla Langit Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga proses komunikasinya dengan menggunakan media manusia terpilih yang dikenal dengan ba-sangiang. (Riwut, 2003:495-496)

Selain itu, Nyangiang disebut sebagai ritual masuknya roh-roh suci ke dalam perantara berupa orang terpilih sehingga dapat berkomunikasi dengan manusia. Dikatakan terpilih karena umat Hindu Kaharingan percaya bahwa tidak semua orang dapat menjadi media Nyangiang, hanya keturunan-keturunan tertentu yang dapat melakukannya. Adapun dalam prosesi Nyangiang tersebut orang yang dirasuki roh-roh suci tersebut menjadi tidak sadarkan diri karena tubuhnya dipergunakan sebagai media komunikasi oleh roh-roh suci yang dikenal dengan sebutan Sahur Parapah, Sangiang atau Patahu. Adapun media terpilih tersebut dikatakan memiliki jamban sangiang atau jalan sangiang sehingga ia dapat digunakan sebagai media Nyangiang (Rabiadi, wawancara 22 Maret 2013)

Adapun yang melatarbelakangi pelaksanaan ritual Nyangiang dalam kehidupan umat Hindu Kaharingan adalah keyakinan bahwa Raja Bunu dan keturunannya adalah manusia yang tidak kekal dan akan mendiami kehidupan sementara di Pantai Danum Kalunen atau dunia ini. Namun, disampaikan Ranying Hatalla dalam Panaturan pasal 29 ayat 5:

"Tinai kuan Ranying Hatalla, ela bitim ngupang basule huang nahingan pahariwut rawei-Ku, tarantang aim dia memen bewei, aluh ewen te puna bagin matei, te kareh tege panarantang tambun paharim ije dia tau matei, ije akan haduanan ewen te kareh buli AKU"

Artinya:
Ranying Hatalla kembali menyebutkan; engkau jangan merasa khawatir dengan petunjuk dari-Ku, walaupun keturunanmu menjadi bagian yang mati, mereka itu akan dibantu oleh keturunan kedua saudaramu mengembalikannya menyatu kepada-KU.

Dalam keyakinan Kaharingan, manusia adalah anak keturunan dari Raja Bunu. Pada mulanya Raja Bunu memilki dua orang saudara, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Dengan kehendak dan kekuasaan Ranying Hatalla Langit maka dikehendaki bahwa Raja Bunu kelak yang akan mendiami dunia atau Pantai Danum Kalunen yang tidak kekal ini.

"Raja Bunu tempun hila sanaman ije leteng, ietuh awi Ranying Hatalla ewen ndue Jatha Balawang Bulau mahaga Lewu Injam Tingang, Pantai Danum Kalunen kareh ije bagia matei"
(Panaturan, 23:23)

Artinya:
Raja Bunu mendapatkan bagian besi yang tenggelam, juga telah ditetapkan oleh Ranying Hatalla dan Jatha Balawang Bulau untuk memelihara kehidupan Dunia yang sifatnya hanya sementara.

Namun, kedua saudara Raja Bunu tersebut pula dikehendaki Ranying Hatalla agar selalu membantu saudaranya di Pantai Danum Kalunen tersebut. Sehingga dalam segala macam upacara Hindu Kaharingan termasuk ritual Nyangiang selalu ada mantra dan juga prosesi penyampaian doa kepada para Sangiang agar dapat membantu kelancaran ritual tersebut agar dapat berjalan dengan baik.
Walau terkadang, kesalahpahaman yang diakibatkan ketidaktahuan oknum-oknum tertentu menyebabkan kesalahan makna pada masyarakat tentang pengertian sesungguhnya ritual tersebut. Terkadang dikatakan bahwa umat Hindu Kaharingan memuja setan atau mahluk-mahluk halus.

Sesungguhnya, Hindu Kaharingan meyakini bahwa dalam kehidupan harus saling menghormati kepada semua mahluk. Karena, roh-roh suci pula yang menghubungkan manusia dengan Tuhan YME, ibarat dalam pemerintahan diperlukan prosedur dari jajaran paling bawah untuk menyampaikan aspirasi maupun keinginan hingga ke tingkat paling atas.
Karena, semua hal didunia ini hingga yang kasat mata itu ada bukan untuk direndahkan atau dibenci. Semua ada untuk sebuah alasan. Seperti halnya puzzle-puzzle yang saling melengkapi satu sama lain untuk menjadi utuh. Seperti disampaikan Ranying Hatalla bahwa sesunggunya semuanya harus saling mengasihi dalam persaudaraan. Dimana semua ada bukan tanpa alasan seperti Raja Sangen, Raja Sangiang dan Raja Bunu yang saling membantu. Tidak ada yang lebih unggul diantara lainnya. Karena keharmonisan dan keselarasan berarti semua ada dalam harmoni dalam keseimbangan.

Sumber:
Skripsi oleh: Kunti Ayu Vedanti
Upacara Nyangiang Bayar Hajat pada Umat Hindu Kaharingan di Kelurahan Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya, STAHN-TP :2013.

Senin, 20 Januari 2014

Pandangan Hindu Kaharingan Tentang Perkawinan dan Keturunan Serupa Ranying Hatalla (Kitab Suci Panaturan Pasal 19)

Manusia adalah mahluk yang memiliki keistimewaan tersendiri. Kemampuannya untuk berpikir, menggunakan indria dan semua daya nya bahkan untuk merubah dunia sesuai apa yang ia kehendaki. Demikianlah keistimewaannya yang dapat menjadi terang dunia atau bahkan sebaliknya.
Seperti yang kita ketahui, dalam ajaran Hindu terdapat 4 (empat) tahapan kehidupan manusia, yang disebut catur asrama. Dalam catur asrama diberikan penjelasan tentang beberapa fase kehidupan manusia.
Fase tersebut adalah fase brahmacari (menuntut ilmu), fase grhasta (berumah tangga), fase wanaprastha (melepas keduniawian), dan yang terakhir fase bhiksuka (melepas keduniawian total/tidak menikah). Dalam catur asrama manusia diberi pandangan tentang bagaimana ia seharusnya menjalankan kehidupannya. Dari masa kanak-kanak hingga ia beranjak dewasa dan menjadi manusia yang bijak. Di masa kanak-kanak dijelaskan bagaimana seharusnya ia berperilaku dan apa yang menjadi swadharmanya. Seorang anak seharusnya memanfaatkan waktunya untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai keterampilan sampai ia siap menuju ke jenjang pernikahan saat ia telah cukup dewasa dan layak untuk itu.
Manusia ataupun seorang anak dilahirkan dari bersatunya seorang laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan. Hal tersebutlah yang lazim kita ketahui dalam keseharian kita. Namun, realita yang terjadi di masyarakat saat ini tidaklah seperti yang kita yakini. Banyak terjadi perbuatan amoral yang menyebabkan kelahiran seorang anak manusia di luar pernikahan. Bahkan hal tersebut sudah seperti hal yang biasa terjadi dalam dunia modern ini.

Lalu apa menurut Panaturan?

Panaturan Pasal 19 menyampaikan bahwa:
Kilen kea amun jadi kinjap tutu panjanjuri dahan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan, Limut Batu kamasan Tambun palus hindai atun mandinun garing tarantange, sihung lalundung.
Artinya :
Melihat beberapa kejadian yang telah berlalu, sering Kameluh Putak Bulau Janjulan Karangan, Limut Batu Kamasan Tambun keguguran (panjanjuri darahnya), namun masih belum juga mendapat anak keturunannya.

Dalam kitab suci Panaturan diceritakan bahwa Kameluh Putak Bulau dan Manyamei Tunggul Garing telah tinggal bersama namun dari hubungannya tersebut belum juga dikaruniai keturunan. Beberapa kali ia mengandung namun selalu saja mengalami keguguran.
Hingga Ranying Hatalla Langit pun menghendaki agar mereka berdua melaksanakan pernikahan agar mendapatkan keturunan.

Ewen ndue tuh puna ilalus gawin lunuk hakaja pating, barigen hatamue bumbung, awi ewen sintung ndue dapit jeha ije manak manarantang hatamunan AKU huang pambelum Pantai Danum Kalunen ije puna ingahandak awi-KU tuntang talatah panggawie, manjadi suntu akan pambelum Pantai Danum Kalunen.
(Panaturan, Pasal 19 ayat 3)

Artinya:
Sesungguhnya mereka berdua ini adalah wujud-KU sendiri, AKU akan melaksanakan Upacara Perkawinannya agar mereka dapat memberikan keturunan serupa AKU, bagi kehidupan dunia yang AKU kehendaki, dan ini pula yang akan mereka lakukan pada kehidupan dunia nantinya.

Apa yang dimaksud keturunan serupa IA?

Tuhan YME atau Ranying Hatalla Langit merupakan IA yang Maha Segalanya. memiliki semua sifat sifat luhur atau dikenal dengan sifat kedewataan. Tidak dikuasai oleh hal-hal negatif dan tentunya selalu dalam dharma.
Maka demikianlah seharusnya manusia yang sejati, memiliki kesadaran serupa IA yang ada di dalam semua mahluk dan menyadari keutamaannya sebagai seorang manusia.

Mengapa harus melalui perkawinan baru didapat keturunan serupa IA?

Perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan suci yang dilalui manusia. Dari sebuah perkawinan tentu diharapkan keturunan yang mulia dan juga dapat meneruskan kelangsungan hidup manusia. Sesungguhnya pernyataan dalam kitab suci Panaturan tersebut dapat kita pahami dan temui dalam kehidupan kita saat ini.
Tentu sudah tidak jarang didapati pasangan kumpul kebo yang telah tinggal bersama layaknya suami istri. Bahkan tidak jarang dari hubungan tersebut lahir anak-anak diluar pernikahan. Dari hal tersebut sudah tentu sangatlah sulit mendapatkan keturunan serupa Ranying Hatalla Langit.
mengapa?
Karena anak tersebut tumbuh dengan tidak layak. Dimaksud tidak layak karena ia tidak mendapatkan hak-haknya, baik perlindungannya secara hukum, bahkan terkadang haknya untuk berkehidupan layak dan kehidupan sosial yang sehat. Dengan status anak di luar pernikahan tentu ia tidak dapat berinteraksi dengan baik selayaknya anak pada umumnya. Bahkan juga tidak mampu mengenyam pendidikan dikarenakan ketidaksiapan finansial dari kedua orang tuanya.
Sehingga sudah tentu akan sangat sulit membentuk karakter dan keseimbangan baik secara mental maupun fisikis sang anak.

Hal tersebutlah yang sesungguhnya dianggap sebagai keturunan serupa AKU oleh Ranying Hatalla Langit. Kematangan dan kedewasaan kedua manusia untuk menuju jenjang pernikahan bukan sesuatu yang main-main karena dari sanalah wujud tanggungjawab terbesarnya bagi dunia dan Tuhan YME. Disanalah ia memulai misi besarnya dalam kehidupan. Mempersiapkan dengan matang masa depan dan kehidupan keluarganya.

"Maka dengan itu Ranying Hatalla Langit telah bersabda dalam Panaturan, bahwa sesungguhnya manusia adalah serupa IA. Memiliki kekuasaan dalam kedua tangannya serupa NYA. Manusia dapat memilih untuk memelihara atau menghancurkan"

Sumber: Panaturan, MBA-HK 2003

Minggu, 27 November 2011

Raja Bunu Manusia Pertama Persfektif Hindu Kaharingan (Asal-Usul Suku Dayak)


Propinsi Kalimantan Tengah secara astronomi berada pada posisi 0045’ Lintang Utara (LU-3031’ Lintang Selatan (LS) dan antara 1100-1160 Bujur Timur (BT). Secara geogafis berbatasan dengan propinsi Kalimantan Timur di sebelah timur. Luas wilayah Kalimantan Tengah secara keseluruhan sekitar 153.546 km2 atau lebih kurang 7,95% dari keseluruhan luas Indonesia, terdiri dari hutan belantara seluas 126.200km2, rawa-rawa 18.115 km2, sungai, danau, dan genangan air lainnya seluas 4.563 km2 serta pertanahan lainnya seluas 4.686 km2.
Dalam bahasa setempat, Kalimantan berarti pulau yang memiliki sungai-sungai besar (kali ‘sungai’; mantan ‘besar’). Pulau Kalimantan dikenal juga dengan nama Brunai, Borneo, Tanjung Negara (pada masa Hindu), dan dengan nama setempat Pulau Bagawan Bawi Lewu Telo. 
Menurut tetek tatum, nama Pulau Goyang  atau Bagawan Bawi Lewu Telo  dalam bahasa Dayak Sangiang (Dayak Kuna) artinya: Goyang ‘suci’ dan Bagawan Bawi Telo ‘Negeri tempat tiga putri’.  

Tanjung Negara adalah nama yang tercantum dalam Atlas Nederland Indie tahun 1938. Nama ini digunakan pada abad ke-13 semasa Kerajaan Hindu. Tanjung Negara maksudnya ‘pulau’ atau ‘negara’ yang banyak memiliki tanjung (laut). Sedangkan Kalimantan adalah nama yang lahir semasa Kerajaan Islam abad ke-16, pada masa Pangeran Samudra (Pangeran Suriansyah) alias Mahurum memegang tampuk pemerintahan di Banjarmasin. Ada dua macam pengertian mengenai nama Kalimantan ini: (1) Kali ‘sungai’ mantan ‘besar’; Kalimantan artinya pulau yang memiliki sungai yang besar-besar. (2) Kalimantan artinya nama semacam pohon buah asam yang banyak terdapat di Kalimantan. Kata mantan, juga terdapat dalam bahasa Dayak Sangiang yang berarti ‘besar’.
 
Sebutan kata Dayak adalah sebutan yang umum di Kalimantan. O.K. Rachmat dan R.Sunardi mengatakan bahwa kata Dayak adalah satu perkataan untuk menyatakan stam-stam yang tidak beragama Islam dan mendiami pedalaman Kalimantan, dan istilah ini diberikan oleh orang Melayu di pesisir Kalimantan yang berarti orang gunung.

Keyakinan asli suku Dayak Kalimantan tengah adalah Agama Helu yang kemudian dikenal dengan sebutan Kaharingan atau Hindu Kaharingan setelah integrasi dengan Agama Hindu pada Tahun 1980.
Agama Kaharingan merupakan kepercayaan asli suku Dayak yang berasal dari kata haring artinya hidup. Menurut kepercayaan pemeluk agama Kaharingan, Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu namun sejak awal penciptaan, sejak Tuhan yang disebut Ranying Hatalla menciptakan manusia. Ranying berarti Maha Tunggal, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Kekal dan Maha Pendengar. Hatalla berarti Maha Pencipta.
 
Hindu Kaharingan adalah kepercayaan tertua di Kalimantan Tengah. Agama Hindu Kaharingan ini sudah menyatu erat dengan kebudayaan dan tata cara kehidupan suku Dayak, baik dari bahasa, tata kehidupan, dan ajaran-ajaran yang termasuk filosofi hidup suku Dayak. Hal tersebut yang menyebabkan suku Dayak dan Hindu Kaharingan menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan seperti raga dan roh (jiwa). 
Hindu Kaharingan menyebutkan bahwa leluhur suku Dayak adalah Raja Bunu sebagai manusia yang diturunkan oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) ke Pantai Danum Kalunen (Dunia). Hal tersebut tertulis dalam Kitab Suci Panaturan (sumber susastra Agama Hindu Kaharingan) yang menggunakan Bahasa Sangiang yang merupakan bahasa tertua yang kemudian menjadi induk dari beragam bahasa daerah yang ada di Kalimantan Tengah, sebagai berikut: 
"Limbah uras jadi batatap, te Ranying Hatalla malaluhan Raja Bunu ewen hanak hajarian tuntang kare raja-raja ije mandengan ewen mahapan Palangka Bulau Lambayung Nyahu, balua Tumbang Lawang Langit, nanturung Bukit Samatuan hila Pantai Danum Kalunen, hayak te kea ewen nunjung tukii tingang, mangkat lahap rawing hangka uju lulang luli, naharep kabaluman matan andau belum".
(Panaturan, Pasal 37; Ayat 15)
Artinya: 
Setelah semuanya sudah siap, maka Ranying Hatalla mulai menurunkan Raja Bunu sekeluarga dan beberapa Raja-Raja yang mendampingi mereka, memakai Palangka Bulau Lambayung Nyahu keluar dari Tumbang Lawang Langit, menuju puncak Bukit Samatuan di Pantai Danum Kalunen (Dunia), bersama itu pula mereka mengangkat tukii tingang (pekikan pujian kepada Ranying Hatalla) serta malahap tujuh kali menghadap matahari terbit.

Demikianlah, dijelaskan melalui Panaturan, suku Dayak adalah anak keturunan Raja Bunu yang mendiami dunia dan mendapatkan ajaran tata cara kehidupan dari Ranying Hatalla Langit Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau, Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan. Sebagai Agama Helu, agama tertua suku Dayak Kalimantan Tengah, Agama Hindu Kaharingan adalah agama yang diteruskan secara turun-menurun sebagai ajaran lisan. seiring perkembangan waktu, Panaturan sebagai kitab suci Agama Hindu Kaharingan disusun demi mempermudah umat Hindu Kaharingan mendapatkan sumber dan acuan tertulis. 

sumber : 
Panaturan, 2003. Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah. 
Maneser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur, Dra. Nila Riwut.
Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan, Tjilik Riwut.